Thursday, May 31, 2007
Monday, May 21, 2007
Ghost Whisperer
Saat ini gue lagi termehe-mehe dengan film serinya Jennifer Love Hewitt (JLH) yang Ghost Whisperer.Gue nontonnya sampe nggak berenti2.
Selain emang karena gue tertarik dengan hal2 yang berbau supranatural, si Jim, suaminya itu, cihuy banget.
Bener2 gentleman abiz !!!!
Dia bener2 tau banget dengan keadaannya Melinda (JLH) yang bisa ngeliat hal2 gaib, menerima istrinya apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dewasa, kebapakan, bertanggung jawab, melindungi, dan dia sangat amat pengertian sekali.
Dia juga sabaaaarrrr banget.
Bener2 gambaran sosok lelaki yang selalu ada di benak gue selama ini.
Is there someone like him out there for me? I hope so :)
Saturday, May 19, 2007
ANATOMY
Just have this on my thought today.Women's anatomy, nope, MY anatomy -- which are not perfect for most people, but so perfect for myself -- :D
Part 1: SKIN
For most of Indonesian girls, have dark skin is such a sin.
Why?
Coz most of Indonesian men prefer women with light skin than dark.
That's why many girls making efforts to get their skin lighter with those A-Z cosmetics.
I am one of the Indonesian girls who has middle-dark skin.
And guess what? I'm so happy with what I have.
In fact, I'm still trying to make my skin more tant.
In my opinion being dark is very sexy.
Part 2: NOSE
How about nose?
Many girls try to do plastic surgeries to make their nose higher.
Haha ... I have little nose.
And yet I feel that my nose is so cute :D
Part 3: EYES
These days glasses become one of trend fashions.
I can't stay away from my glasses.
And it makes my eyes more tiny.
But hell, little eyes are sexy, right? :D
Part 4: HAIR
Some like straight hair and some like curly/wavy hair.
When I was young (not because that I'm old now) straight hair became trend.
I had wavy hair and never done anything with my hair.
But now many people said that I shouldn't do anything with my hair coz it grows beautiful with that wave. (And now it's one of the trend.)
Part 5: BREASTS (Ups ... Should I write it in small caps?)
Most men like the huge one.
And women try to fullfill that stupid demanding.
Mine ... well, you tell me :D
Yet I believe in something that I won't write it here.
Thank GOD I still have perfect hills :)
Part 6: HEIGHT
For most people being 165-170 cm is ideal for a woman. (Especially when you have dreams to walk on catwalk as models.)
I'm 156 cm. But it becomes an advantage.
Coz eventhough someday I have a 160 cm boyfriend, he's still taller then me ;)
Conclusion: In my own point of view
Having a perfect anatomy like a model is not everything.
You should see it from other side.
Coz when you grow old, everything will change.
You're not as beautiful as you used to be when you were young.
Eventhough I'm not denying that first impression when you meet someone is your outlook coz how you could know someone's inner when you first meet him/her.
"Inner beauty comes from a good soul. And it's the most important of all."
And I'll make every single effort to outer my inner one ;)
How about you?
Wednesday, May 16, 2007
Nggak Penting
Tapi tiba2 banget gue tergelitik untuk ke Mangga Didut secara udah lama banget nggak beli DVD.
So, jadilah gue ke Mangdu sama adik gue ‘n nyokap.
Sampe di sana, pas lagi jalan ke arah Mall Mangga Dua, ada yang nyolek bahu gue (secara gue pake tank-top, berasalah gue dicolek).
Langsunglah gue sedikit noleh, ngelirik pake ujung mata (coz gue pikir, bisa jadi gue dikerjain cowok iseng).
Tapi ternyata itu temen SMA gue, yang juga pernah satu kampus beda jurusan sama gue.
Pas gue ngelirik ke sebelahnya, dia ternyata bareng sama temen yang lain, cowok juga, yang gue tau dia satu SMA juga sama gue, cuma gue lupa siapa namanya :p
Keterlaluan deh gue. Padahal, si “temen” ini dulunya salah satu gebetan cewek2 satu angkatan gue karena selain pinter, doi guanteng gitu (kata mereka).
Well, coz he’s not my type back then (hehe ... jaman2 itu gue lebih seneng cowok yang kulitnya cenderung gelap dibandingin cowok2 berkulit putih yang menurut gue jadi menimbulkan kesan “imut” dan bukannya “laki”), gue jadi nggak hafal sama namanya.
Setelah agak2 basa-basi busuk ...
Temen yang pernah sekampus: “Sama siapa, Yu?”
Gue: “Sama nyokap ‘n adik gue.” (sembari sok2 cari nyokap, yang ternyata daritadi berdiri tepat di samping gue) “Kenalin, ini nyokap gue.”
Temen yang pernah sekampus: “B..., Tante.”
Gue: “Ini temen SMA Ayu. Yang itu juga.” (masih berusaha mengingat2 siapa namanya, sambil berharap dia nyebutin nama.)
Temen SMA gue yang kulitnya kayak salju itu: “F....”
Oalah!!! Iya ... Ternyata itu si F...
Gemblungnya nih, abis kita dadah2, gue jadi senyum2 sendiri dan niat banget untuk cari buku tahunan SMA gue begitu sampe di rumah cuma bakal liat fotonya si F...
Gimana nggak? Si F... sekarang malah tambah cihuy, dan setelah gue pikir2, dia mirip banget sama salah satu bintang Jepang kesayangan gue, Imai Tsubasa. (meskipun Tsuba-chi kulitnya lebih gelap dibandingin F...)
Malemnya nyokap traktir makan all you can eat di Gang Gang Sullai yang bikin gue nambah, nambah, dan nambah tanpa mikirin perut gue yang nyaris meledak sampe musti buka kancing jeans gue (Please don’t try this at home :D). Hmmmmm ... Nyam nyam !!!!!
Monday, May 14, 2007
Kawinan Heboh

Yang gue panggil dengan rombongan gedumbret itu: gue, nyokap, Mama, Papa, Opa (bokapnya Papa), Oma (nyokapnya Papa), Tante Ati (sahabatnya Mama) ‘n Aswin (anaknya Tante Ati).
Kita dateng sendiri2 dan ketemuan di sana untuk masuk bareng.
Begitu sampe, infotanment udah rame di depan.
Ini serius INFOTAINMENT loh !!! Coz bokapnya Leni dulunya (ato masih? Gue nggak tau persis) adalah salah satu dari pengacara yang biasa ngurusin kasus selebritis.
Bisa keliatan dari MC-nya aja Farhan. Terus gue sempet liat ada Elsa Syarif, sempet denger Nia Daniati nyumbang beberapa lagu, bahkan yang tadinya gue pikir Anwar Fuadi pas gue liat dari jauh, ternyata Sutiyoso aja gituh ...
Begitu mempelainya masuk gedung ... Tereroret jijing ... Mba Leni cantiiiiikkkk banget !!!!
Dia pake kebaya warna gold gitu, terus pake songket senada, dan kanan-kiri rambutnya yang tersanggul dikasih sumping kayak putri2 raja.
Sayang banget gue nggak bawa kamera ‘n HP gue nggak bisa dipake buat foto jarak jauh.
Ada kameranya Papa sih ... Tapi pasti foto itu langsung dicetak ‘n dibawa ke NZ untuk dipamerin ke sepupu gue. (Mereka nggak seberapa ngerti dengan teknologi canggih yang memungkinkan foto2 itu disimpen di dalem PC ato laptop. Hxhx ... Untungnya gue sempet foto2 narcist sebelum pergi :p)
Dan Fiza, suaminya, (baru kali ini gue liat versi live-nya) mirip sama Bams vokalisnya Samsons. Bedanya Fiza lebih putih aja.
Gue yakin kalo kawinan Mba Leni itu pake jasa Wedding Organizer secara banyak cowok pake baju item2 berdasi dan pake alat komunikasi seliweran wara-wiri. And FYI, mereka cakep2!
Nyebelinnya niy ... secara yang pada “dituakan” dapet tempat duduk di seksi VIP, jadilah gue “dititipin” ke Aswin.
Rencana mau jelalatan, eh, malah berasa punya body guard dadakan... Hxhxhxhx...
Sepupu gue katanya sedih berat gitu karena ngerasa keilangan banget. Kesian juga siy dengernya.
Tapi itu adalah indikator bahwa yang namanya KARMA ternyata emang bener ada.
Sebelum pulang kita juga sempet ketemu sama mantan sepupu gue yang pernah gue ceritain, Mba Put.
Untunglah sepupu gue nggak bisa pulang karena nggak dapet tiket.
Baru ditelepon kasih info selayang pandang aja dia udah kalang-kabut, gimana kalo dia dateng dan ketemu sama dua mantannya sekaligus? Bisa stres pada anak ntar :D
Anyway, paling nggak Mba Leni udah nemuin kebahagiaannya dan gue mendoakan semoga Mba Leni dan Fiza bisa langgeng, awet sampe kakek-nenek :)
- 12 Mei 2007 -
Friday, May 11, 2007
Bukan Sepenuhnya Salah Mereka

Dengan berat hati gue akuin -- dan gue yakin ada juga gue2 lainnya di luar sana -- gue pribadi adalah tipe cewek yang nggak suka diatur2 dan nggak mau kalah. Gue punya mau, dan gue juga punya prinsip. Prinsip gue yang terbesar di saat berhadapan dengan cowok, ‘Kalo emang bisa menang, kenapa harus kalah?’ Yang gue sadarin juga, gue nggak suka berada di bawah cowok. Gue selalu berusaha memposisikan diri gue equal dengan dia. Bukan di atasnya, catet, tapi sejajar. Tuntutan tak tertulis gue dalam suatu hubungan serius dengan cowok adalah dia boleh aja minta gue melakukan sesuatu, tapi dengan alasan yang bisa gue terima dengan logika gue. Dan seandainya gue berbeda pendapat dengan dia, dia harus mau dengerin (bukan ngikutin kayak sapi dicocok idungnya) pendapat gue dan kita berdua mencoba untuk combine keinginan dia dan gue di satu kesepakatan yang kita ambil bersama. Gue nggak akan terima kalo dia memaksakan kehendak ato nyuruh2 gue untuk begini ato begitu. Gue pasti akan ikhlas melakukan sesuatu yang ada embel2 “tolong” daripada “harus”. Gue yakin, kalo kata “harus” itu yang keluar, there will be a war between us. Well, itulah hal yang gue sadari dari diri gue.
Tapi dari pengalaman2 pribadi gue, baik pertemanan dengan cowok maupun pacaran, sebagian besar membuat gue tertuntut untuk selangkah lebih maju dari mereka. Karena ketika kita dihadepin ke suatu masalah, biasanya gue yang harus bisa nemuin jalan keluarnya lebih dulu. Karena ketika mereka punya mau dan akhirnya ngambek kalo keinginannya nggak diikutin, gue jadi nggak enak ati dan ikutin keinginan mereka. Karena ketika mereka nangis, gue harus menemukan 1001 cara untuk nenangin mereka. Karena ketika mereka bingung dan ngerasa takut akan sesuatu, gue ngerasa harus melindungi mereka. Pada akhirnya, apa yang ada di buku teks jadi berbeda jauh dari prakteknya. Dan gue menemukan banyak cewek yang mirip dengan gue. We want to be a hero for them, but actually we do it in the wrong way without realizing.
Akhirnya, realita menunjukkan, kecenderungan cewek jaman sekarang adalah nggak mau kalah; tendensius untuk bisa ada di atas cowok; masih bisa dibodohi dengan strategi lihai cowok untuk ikutin keinginan terselubung mereka supaya mereka nggak perlu bersusah payah dalam mendapatkan sesuatu; merasa posisinya aman kalo seorang cowok lebih bergantung kepada dirinya karena dengan begitu cowok itu akan terus mencari dia dan bukan orang lain; merasa bahagia kalau bisa memanjakan cowok yang dia sayang baik dari segi material maupun spiritual; dll., dll. Jadi, sebenernya tanpa kita sadari, justru kita sendiri yang mendidik para cowok ini untuk jadi cowok2 pemalas bermental tempe.
Kalau gue bisa ngelontarin pertanyaan, siapa sih yang nggak seneng diperhatiin? Siapa yang nggak seneng bisa jadi “seseorang yang sangat berarti”? Siapa yang nggak seneng dimanja? Siapa yang nggak seneng diayomin? Siapa yang nggak seneng kalo semua kebutuhannya terpenuhi tanpa harus berusaha? Siapa yang nggak bangga dianggep sebagai orang yang paling berjasa atas seseorang? Siapa yang nggak seneng dijadiin raja/ratu? Semua orang, nggak cewek, nggak cowok, pastilah seneng. Tapi sekarang semua ini udah salah kaprah. Dan yang gue nggak suka, karena kebanyakan dari cowok2 itu sekarang udah bukan lagi ‘pangeran berkuda putih’ yang akan berjuang sampe titik darah penghabisan demi kita.
Gue amat sangat setuju dengan adanya emansipasi wanita. Gue juga amat sangat setuju dengan adanya posisi equal dalam hubungan antara cewek dan cowok.
Tapi di suatu saat nanti, kalo dalam urusan rumah tangga misalnya si istri dengan semangat ’45 pingin mengkudeta posisi suami untuk ada di atas suami dan menjabat sebagai kepala rumah tangga, menurut gue, selain si istri lupa dengan kodratnya sebagai tulang rusuk Adam, yang paling parah berarti dia juga punya kecenderungan bodoh.
Kenapa bodoh?
Cita2 gue yang mudah2an kesampean (amin), gue nggak mau punya suami yang leyeh2 nganggur di rumah ato kerja seadanya cuma bakal cap kalo dia punya pekerjaan, sementara gue sibuk banting tulang siang-malem untuk nafkahin keluarga.
Dan gue juga nggak mau punya suami yang tiap kali ada masalah justru majuin gue untuk mikir mati2an demi mecahin masalah sementara dia berlindung di balik punggung gue, atawa ngacir entah kemana, atawa tau beresnya aja, atawa cuci tangan kalo seandainya jalan yang gue pilihin salah.
Itu makanya gue bilang istri model begitu punya kecenderungan bodoh.
Kenapa kita harus bersusah payah ngerjain kewajiban laki2 sekaligus kewajiban kita sendiri?
Emangnya para lelaki itu mau, pulang kerja bantuin kita urus anak, masak, nyuci, nyetrika, dan di akhir minggu ngelupain waktu istirahatnya untuk bantu2 beres rumah, belanja, dan ngurusin segala tetek-bengeknya? Pasti mereka bakal kasih alesan, “Lho, itu kan tugas perempuan.”
Secara teoretis gue terpikir satu cara yang bisa kita, cewek2, bikin untuk mencegah ‘emansipasi pria’ (secara menurut gue, emansipasi jenis ini justru akan memunahkan habitat pria dan menjadikan seluruh dunia ini “wanita berbeda alat kelamin”) supaya nggak berkembang pesat, meskipun pada pelaksanaannya gue rasa nggak akan gampang dan harus ngeraba2 secara tiap orang pasti punya sifat yang berbeda.
Bedanya tipis emang antara membutuhkan dengan ketergantungan.
Kalo seseorang punya rasa ketergantungan pada orang lain, dia akan bikin orang itu nggak bisa bergerak bebas dengan kenggakberdayaan dan kenggakPDan yang dia punya.
Huidih ... Kalo itu jatohnya di cowok, kita sebagai cewek bisa apes tujuh turunan :D
Sementara kalo jatohnya di cewek, yah, masih ada sejuta pemakluman lah. Secara menurut primbon nenek moyang ‘Perempuan adalah makhluk yang lemah’, ketergantungan pada lawan jenis yang berarti berbanding terbalik, lebih kuat, bisa jadi dasar pembenaran :p
Beda dengan rasa saling membutuhkan.
Saling membutuhkan numbuhin rasa ada yang kurang meskipun tanpa diapun loe tau kalo loe nggak akan kenapa2. You just feel incomplete without him/her dan bukannya can’t live without him/her. Sementara rasa menghormati bisa bikin kita sama2 menghormati kewajiban dan hak pasangan kita bahwa apa yang harus kita lakukan sebagai perempuan ataupun yang harus mereka lakukan sebagai laki2 emang sama berat dan sama pentingnya.
Gue bukannya mau ngajarin munafik. Tapi sekali waktu, dalam suatu hal (bukan semua hal, lho. Bisa2 ‘tu cowok ngacir secara dia bakal ngerasa kita jadi beban buat dia), perlulah kita bikin mereka merasa kita membutuhkan mereka dan tanpa mereka kita nggak bisa apa2 (walaupun mungkin kita pasti bisa bikin itu tanpa pertolongan mereka), tapi di waktu yang lain kita juga harus bisa atur strategi supaya mereka juga merasa membutuhkan kita dan tanpa kita, mereka ngerasa nggak sempurna.
Karena, ada satu hal juga yang gue pelajari, di saat gue merasa cowok gue bisa melakukan semua hal sendiri tanpa membutuhkan keberadaan dan bantuan gue, gue ngerasa apa arti dan gunanya gue buat dia?
Gue sebagai cewek aja bisa ngerasa begitu, apalagi mereka sebagai cowok yang notabene lebih membutuhkan rasa "dibutuhkan" itu?
Emansipasi Pria

Posting terakhir di blognya Ichank cukup menarik. (Buat gue, menarik banget malah!)
Kenapa tendensinya, kebanyakan cowok jaman sekarang lebih banyak bergantung sama cewek dan kenapa juga dalam banyak hal, cewek bisa lebih unggul dari cowok?
Gue pikir2, ya juga siy.
Apa karena ada emansipasi wanita, para cowok ini juga nggak mau kalah dan pingin punya term emansipasi pria?
Yang gue baca dari buku sejarah, emansipasi wanita ada karena dulu cewek nggak boleh ato nggak perlu sekolah tinggi. Cewek dianggep warga kelas dua. Nggak penting buat cewek sekolah tinggi karena buntut2nya setelah berumah tangga tempat cewek itu di dapur. Dalam pekerjaan, orang jaman dulu menganggap cewek adalah makhluk yang lemah dan harus selalu bergantung sama cowok. Nggak semua pekerjaan cowok bisa dibikin sama cewek. Apalagi pekerjaan yang membutuhkan kekuatan fisik.
Buat gue pribadi, emansipasi wanita adalah satu kondisi di mana cewek diberikan kesempatan yang sama dengan cowok, baik dari segi pendidikan, juga pekerjaan, tentunya tergantung kemampuan masing2 individu.
Nah, kalo akhirnya emansipasi pria itu akhirnya dikukuhkan dan dimasukin ke dalam kamus, apa yang bakal terjadi?
Coba ya gue pikir2 dulu.
Kalo ada emansipasi pria ... Hmmm ... Oooo ... Gue punya satu contoh kasus yang konkrit.
Gue punya satu sahabat cowok. Dulu, waktu dia baru2 bisa nyetir mobil, dia dengan rela jemput gue kalo kita mau pergi kemana2. Tapi setelah gue bisa nyetir, tiap kali gue ajak dia jalan, dia selalu bilang, “Jemput gue dong. Katanya emansipasi wanita. Jadi, nggak ada salahnya kan kalo loe jemput gue?”
Yang ada di kepala gue, ‘Kurang ajar ‘ni bocah. Emansipasi sih emansipasi. Dalam hal apa dulu dong? Kalo ini mah namanya bukan emansipasi. Tapi dasar loe-nya aja yang manja sekaligus PEMALAS, ditambah murahan!’
Ada kasus lain, satu temen cowok gue bilang, “Isiin gue bensin yee... O iya, ntar traktir gue makan di resto anu yaa... Kalo mau pake nonton, yang penting dibayarin. Hari gini udah nggak jaman cowok yang harus bayarin cewek. Gantian dong cewek yang bayarin cowok. Kan emansipasi. Yang penting kan gue nemenin loe.”
Yang ada di kepala gue, ‘Prasyarat macem apa itu? Bilang aja kalo loe nggak mau keluar duit! Dasar cowok MATRE! Pelit amat sih jadi orang?’
Lain lagi kasus temen gue. Suatu hari dia ngeluh sama gue, “Ampun deh cowok gue! Emang salah sih gue. Gara2 kebiasaan papernya gue yang bikinin, sekalinya gue emang bener2 nggak sempet bikinin dia karena paper gue sendiri keteteran, dia malah bilang gue perhitunganlah, nggak sayang sama dialah, nggak ngertiin dialah, mana pake ngomel2, marah2, udah kayak cewek aja.”
Yang ada di kepala gue, ‘Lah, kenapa jadi loe yang ngerasa salah? Gue berani tarohan. Kalo dia sekarang putus sama loe, bisa cuma tamatan SMA kali cowok loe ‘tu!!!! Nggak bermasa depan banget sih? Mau jadi apa ‘tu orang?’
Ada lagi beberapa kasus yang pernah juga gue alamin sendiri, di mana ada tipikal cowok yang tiap kali punya masalah yang dia nggak ngerti jalan keluarnya ato terlalu takut ngadepin kenyataan yang ada di depan mata, ngelakuin satu dari dua alternatif. Alternatif yang pertama, lari dari kenyataan dengan sebisa mungkin gonta-ganti topik pembicaraan biar nggak ngebahas masalah. Kalo masih ngerasa dicecer dengan masalah itu, langsung pasang jurus marah tanda tak mampu. Alternatif kedua, nangis.
Yang ada di pikiran gue, ‘Buseeetttt !!!! Udah pengecut, cengeng pula! Mending sunat abis aja deh ‘tu ***** loe! Dasar mental tempe!’
Masih banyak kasus2 lainnya yang kalo gue sebutin bisa pegel2 tangan gue ngetiknya :p
Jadi sebenernya, apa gunanya emansipasi cowok? Supaya mereka bisa peras tenaga dan pikiran cewek tanpa berusaha? Supaya mereka bisa nabung untuk keperluan hobby mereka? Supaya mereka bisa ngomel2 kayak cewek tanpa dicap sebagai kakek bawel secara istilah itu emang belum ada? Supaya mereka bisa menitikkan air mata tanpa dibilang banci? Supaya mereka bisa dapetin babu ato supir gratis?
Dan kalau emang term emansipasi cowok emang berhasil mereka kukuhin, mau mereka, para cowok ini, apa? Melahirkan generasi2 cowok pelit, ato cowok pengecut, ato cowok lemah, ato bencong, ato cowok kardus, ato justru berlomba2 menciptakan term ‘drama king’?
Pertanyaan gue, apakah mereka rela kalo mereka nggak dianggep cowok lagi? Apa mereka ikhlas kalo mereka bukannya berdiri di atas ato sejajar sama kita, para cewek, tapi justru ada di bawah kita dan ikutin semua perintah kita? Dan apakah mereka masih bisa bangga dengan itu semua? Gue udah tau apa yang pasti mereka jawab: NGGAK!
So, kalo mereka emang laki2 sejati, dan di suatu titik mereka berpikir sedalem mungkin dengan menyertakan hati nurani mereka, seharusnya mereka udah sampai di suatu pemikiran: kenapa mereka justru sekarang secara nggak sadar berusaha membuat term emansipasi cowok itu exist?
Tapi kalo kita buka mata lebar2, inilah yang terjadi sama cowok2 jaman sekarang. Ngeliat realita yang ada, semua teori turun-temurun dari jaman nenek moyang yang menyangkut “kejantanan” ato “kegentlemanan” cowok udah kadaluarsa kalau dipake di jaman ini. Minjem kata2nya Ichank, inilah yang lagi happening. Dan secara nggak langsung, mereka membentuk kita, para cewek, untuk jadi individu2 yang lebih unggul dari mereka karena kita tertuntut untuk lebih berani, mandiri dengan ato tanpa kehadiran mereka, dan kita juga harus belajar untuk menyeimbangkan logika dengan perasaan.
Di balik itu semua, suka nggak suka, mau ataupun nggak mau mengakui, sebenernya kehadiran cowok2 you-can-call-them-anything ini bukan sepenuhnya salah mereka. Kita, para cewek, sedikit-banyak juga ikut andil di dalamnya ...
Welcome To Bloggers World, Sahabat Simbiosis Mutualismakyu ;)
LCD HP gue makin lama makin gelap dan nggak jelas karena apa.
Mumpung masih garansi, jadilah kemaren sebelum jemput Mama gue masukin HP buat di service dan sekarang Mopicu chayank udah cihuy lagi ;)
Karena ujan deres, gue males balik cepet2.
So, gue baca2 bentar di Gramed, makan di Red Bean, terus beliin adik gue Wendy’s buat buka puasa, dah ‘tu nongkrong di Regal.
Dan semuanya gue lakukan SENDIRIAN :D
Dari PIM gue ke warnet karena udah hampir 2 hari nggak nyentuh e-mail dkk.
Beside, karena kemaren nggak jadi, gue janjian ketemu sama Ichank hari ini.
Tapi lagi2, karena satu dan lain hal, acara lepas rindu jadi GATOT ‘n diundur jadi besok :p
Anyway, sekarang sahabat simbiosis (Ichank mendeskripsikan persahabatan antara gue dan dia sebagai Sahabat Simbiosis, yang sekarang resmi gue tambahin dengan akhiran ‘Mutualisma’) mutualisma gue ini lagi semangat2nya ngurus blog.
Gara2nya hari Minggu kemaren, gue sama dia ke Snappy karena tadinya dia mau laminating foto yang ada TTD-nya Wookie itu.
Gue minta dia baca blog gue yang judulnya Sarangheyo, Wookie.
Karena ngerasa terharu (Huihihihihihi .... Senangnya dia jadi terharu gara2 ketulusan tulisan gue :)), setelah sekian lama gue nyetanin dia untuk bikin blog daripada cuma ckckck-in gue secara selain kirim2 CV gue juga niat banget ke warnet untuk update blog gue, akhirnya dia tergugah untuk punya blog sendiri.
Welcome to bloggers world, Chu ;)
Gue udah kedua kalinya baca tulisan dia.
Dan menurut gue, dia punya sense of humor yang sangat tinggi.
Tulisannya kocak dan dia emang punya jiwa nulis banget.
Kalo dia sering nulis, pasti deh bakatnya bakal kepoles dengan sendirinya :)
Ada satu tulisannya yang bikin gue jadi mikir detil, pro dan kontra, teori dan realitas ...
- 10 May 2007-
Yippie VS Ouch
Gue pergi sama nyokap ‘n Mama (panggilan gue untuk bude gue) ke BP secara Mama minta nyokap gue highlite rambut supaya doi keliatan lebih kinclong.
Rencana awalnya gue cuma drop mereka di BP karena gue udah janjian sama Chucuwicit untuk ambil DVD sama mau nitip ijazah gue untuk difoto copy di kantornya. Lagipula, emang dasarnya hari ini gue juga males kemana2 secara Jakarta lagi panas giling :p
Jam 3 teng gue udah sampe di depan rumah Mama di Pondok Indah.
Jam 3 lewat 15 kita langsung berangkut ke BP.
Nyokap minta gue lewat Radio Dalem karena kalo lewat arteri pastinya bakal macet total.
Yeah ... masuk diakal. Jadilah gue ikutin saran nyokap untuk lewat Radal.
Ternyata eh ternyata, Radal macet berat, Sodakur2 !!!!
Kita stuck di situ for 1 and half hour! Can you imagine????
Gue bener2 dibikin high voltage, kesadaran diri gue udah ilang entah kemana.
Bisa2nya gue klakson2, buka kaca, gedor2 kaca mobil orang sembari neriakin supir2 bodoh yang motong jalan orang seenak jidatnya itu karena nggak sabar nunggu macet.
Mereka pikir jalanan punya nenek moyangnya???? Gue juga antri, tau !!!!
Tumben2an nyokap juga nggak komplen dengan kekacauan yang gue buat karena ternyata dia juga BT sama orang2 itu :D
Mama pun nggak komentar secara dia ketiduran.
Sampelah kita di BP jam setengah 6 kurang dengan rambut gue yang udah “naik” dengan indahnya. (temen2 gue bilang, kalo rambut gue udah pada naik & kepala gue panas, itu adalah barometer bahwa gue udah emosi tak tertolong :p)
Rencana gue mau langsung balik, gue jadi ikut2an ke salon.
Gue udah nggak sanggup langsung nyetir balik secara kaki gue rasanya udah pada teriak minta tolong saking capeknya.
Waktu nyokap lagi cuci rambut, Mama tanya, “Kamu nggak mau highlite?”
Gue cuma cengengesan. Akhirnya gue ceritainlah kalo sebenernya udah lama banget gue pingin warnain rambut. Tapi, gara2 terakhir gue warnain rambut bareng temen2 gue pas awal2 kuliah tingkat satu di sebuah salon ecek2 yang baru buka di Jl. Margonda dengan obat yang sama sekali nggak bermutu dan akhirnya bikin rambut gue rontok nggak karu2an sampe mengalami semi kebotakan (Damn! Itu toning ato semir sepatu????), gue jadi rada trauma.
(Udah emang secara genetis gue punya turunan botak dari keluarga bokap, proses kebotakan gue dipercepat pula sama salon sial itu. Hxhxhxhx ...)
Gue pikir2, kalo masalah gue botak karena faktor genetika, ya, gue terima aja apa adanya deh. Dan siapa tau, dengan gue dihighlite malah bisa nyamarin botaknya :D
Jadilah Mama panggil salah satu staff ‘tu salon, terus, “Mas, tolong yaaa ... Ponakan saya juga mau dihighlite.”
Yippie !!!!!
Nyokap gue udah pasrah, secara gue udah kasih tampang ngarep supaya dibolehin, plus Mama berhasil yakinin nyokap supaya gue juga ikutan dihighlite.
Setelah satu jam gue menyerahkan diri sama si mas (ato mba? ato jeng? yeah, whatsoever) itu untuk ngunyeng2 kepala gue dari mulai dipotong, diwarnain, sampe diblow, akhirnya gue tersenyum PUAS setelah liat hasilnya! Yah, meskipun mungkin jadinya NGGAK GUE BANGET, tapi gue SANGAT PUAS! ;)
Satu cita2 gue yang gue pikir bakal gue pendem seumur idup finally kesampean !!!
Well, gue emang lagi pingin aja ganti suasana yang diawali dengan mengubah sedikit penampilan.
Agak maleman tante gue nyusul ke BP sepulangnya dia dari kantor.
Jadilah kita cekakak-cekikik berempat sampe jam 9 malem di resto Noodle lantai dasar.
Abis anter Mama pulang, gue anter tante gue balik ke Bintaro.
Seperti biasa, tiap kali gue anter orang pulang, gue selalu tunggu sampe dia masuk ke rumah.
Setelah agak lama bekutat dengan kunci gembok, tante gue nyamperin gue sembari bilang, “Yu, coba deh. Kamu bisa bukain nggak? Tante nggak bisa telepon ke rumah soalnya semuanya udah tidur. Takutnya Rio kebangun, kaget, kejang2nya ntar kumat.”
Gue turun dari mobil, terus nyoba buka gembok itu. Tapi tetep nggak bisa.
Gue langsung mikir, ‘Kalo dibuka dari dalem mungkin lebih gampang daripada dibuka dari luar.’
So, nggak pake babibu, gue langsung loncat pager. Hasilnya ... TETEP NGGAK BISA.
Kunci gemboknya dol.
Mau nggak mau tante gue kudu loncat pager juga.
Setelah tante gue loncat masuk dengan suksesnya, giliran gue untuk loncat balik ke luar.
Cuma ... gue salah perhitungan !!!!
Rumah tante gue posisinya menurun. Otomatis di luar lebih rendah daripada di dalem.
Karena di depan gue emang bener2 got, gue harus loncat ke samping, ke arah jalan.
GUBRAK GABRUK BREK ... OUCH!!!
Sendal gue licin. Yang ada, begitu mendarat, pijakan gue slip, gue jatoh dengan posisi pan**t duluan, dan gue nggelinding ke tengah jalan. Untung nggak ada mobil lewat dan nggak ada orang di sekitar situ. Bisa kegiles, atawa nanggung malu :p
Kejadiannya cepet banget (gila ya, kalo orang mau celaka dalam itungan detik pun bisa terjadi. Gue jadi inget, pernah waktu gue dibonceng mantan pacar gue, motornya kesundul [bukan ketabrak lho, tapi bener2 cuma kesundul!] mobil dari belakang. Mantan gue keseret karena masih pegangan di stang motornya, sementara gue kepelanting kira2 1,5 meter dari motor, helm yang gue pake kelempar jauh banget, terakhir, kepala gue mbentur trotoar. Itu juga kejadiannya nggak sampe 1 menit. Dan untungnya kita berdua cuma lecet2 doang. Menyeramkan!) sampe2 pas gue sadar, pan**t gue nyut2an, pinggang gue kayak mau copot, dengkul kiri gue ngilu, lengen kanan gue udah berdarah. Tante gue aja njeritnya belakangan saking syoknya.
Begitu tante gue tanya dengan nada panik, “Aduh, Yu!!!! Kamu nggak papa? Mana yang sakit? Perlu ke tukang urut? Ato perlu ke dokter?”, jawaban gue, -- dasar gue orang Jawa yang emang dididik secara Jawa, gue harus bisa bilang ‘Nggak papa’, ‘Nggak ngerepotin kok’, dkk. dengan muka polos meskipun mungkin kenyataannya nggak begitu. Orang Jawa boleh bilang, ‘unggah-ungguh’. Tapi gue bilang, ‘basa-basi busuk’! -- “Nggak papa kok, Tante... Santai aja... Cuma lecet doang. Aku cuma salah perhitungan tadi pas loncat. Ternyata tinggi juga yaa,” dan lagi2 (dengan style andalan gue supaya orang nggak panik) sambil cengar-cengir, kali ini ditambah nepuk2 celana gue sok2 bersihin pasir2 yang nempel di situ.
Padahaaaaaaaaaalllllllllll .......
Hxhx ... Seandainya nyokap bisa nyetir, gue udah minta tolong dia nyetir pulang kali.
Gimana nggak? Sepanjang jalan pulang, tiap gue injek kopling, kaki gue begeter hebat nahan sakit dari pinggang sampe ke tumit. Ampun dewaaaaa !!!!
Sampe di rumah, sakitnya udah nggak gue rasa2 coz gue langsung masuk kamar ‘n foto2 narcist secara gue punya RAMBUT BARU :D
Duasar gue !!!!!!

- 9 May 2007-
Sunday, May 06, 2007
I Think GOD Can Explain
There's a lot of things I understand,
And there's a lot of things,
That I don't want to know.
But you're the only face,
I recognize, it's so damn sweet of you,
To look me in the eyes.
It's all right, I'm o.k.,
I think God can explain,
I believe I'm the same,
I get carried away
I'ts alright,
I'm o.k.,
I think God can explain
I'm relieved, I'm relaxed,
I'll get over it yet,
The scent of vaseline,
In the summertime,
The feel of an ice cube,
Melting over time,
The world seems bigger than both of us,
Yet it seems so small,
When I begin to cry.
It's all right, I'm o.k.,
I think God can explain,
I believe I'm the same,
I get carried away
It's alright, Im o.k.,
I think God can explain
I'm relieved, I'm relaxed,
I'll get over it yet,
I'm so much better than you guessed,
I'm so much bigger than you guessed,
I'm so much brighter than you guessed.
Its all right, I'm o.k.,
I think God can explain,
I believe I'm the same,
I get carried away
It's alright, I'm o.k.,
I think God can explain
I'm relieved, I'm relaxed,
I'll get over it yet,
I'll get off of your back,
I think God can explain.
I think God can explain.
I think God can explain.
- Splender-
I believe GOD has explanations on what happened and what will happen to me and other people in this life :)
Jodoh?
(Hehe ... Karena sepupu gue ada darah Jepangnya, jadi dia tambahin -chang di belakang nama Mba Len :p)
Cara jodoh dateng emang kadang suka lucu kalo dipikir2.
Dari SMP sampe SMA, gue satu sekolah sama sepupu gue.
Jadi, kisah percintaan mereka, gue tau banget dari A-Z, secara sepupu gue ini biar kata cowok, tapi emang tukang curhat :p
Mereka pacaran waktu kelas 2 SMP.
Secara jaman itu sepupu gue leboy berat, dia nggebetin temennya si Lenchang, meskipun waktu itu mereka masih jadian.
Begitu deket sama si Mba Put, 'n naga2nya gayung bersambut, diputusinlah si Lenchang ini untuk jadian sama Mba Put.
Nggak lama, jadian lah Lenchang sama cowok lain.
Tapi sepupu gue 'n Mba Lenchang jadi musuhan selama 1 taun.
Begitu masuk SMA, sepupu gue kuliah di LN.
Dan gara2 dia iseng manas2in si Mba Put dengan bilang kalo dia punya cewek di sana, putuslah mereka.
Dalam itungan minggu, Mba Put jadian sama seniornya.
Duar!!! Ceritanya sepupu gue patah hati secara orang dia mau iseng, malah jadi bener2 keilangan.
So, pas sepupu gue balik ke sini, mulailah dia curhat2 sama Lenchang secara waktu itu Lenchang juga baru putus sama cowoknya.
Dari curhat2an itu, akhirnya mereka pacaran lagi, sampe akhirnya Mba Lenchang nyusul sepupu gue untuk kuliah di kota yang sama.
Semuanya berjalan sampe 7 taun lamanya.
Cuma, nggak tau gimana cerita persisnya, intinya sepupu gue ketauan selingkuh untuk yang kedua kalinya, berantem hebat, dan akhirnya putuslah sama Mba Lenchang.
Gue pribadi, gue suka banget sama Mba Lenchang ini.
Coz dia baiiiikkk banget.
Selama gue main ke NZ, cuma dia yang selalu nyempet2in nemenin gue kemana2.
Kalo nggak ada dia, praktis selama seminggu gue di sana gue pasti cuma di rumah doang karena sepupu gue lagi ujian dan nggak mood pergi2an.
Di luar itu, dia pinter banget ambil hati keluarga besar gue.
Bahkan, di saat mereka udah putus pun, ketika adiknya sepupu gue mau kuliah di Aussie, dia yang bela2in nyebrang ke Aussie untuk cari2 info sekolah juga apartemen yang bagus.
Dan dia ngelakuin itu semua, bukan karena adanya kewajiban ato apa.
Tapi karena dia TULUS.
Manusia memang nggak ada yang sempurna.
Mba Len pun juga punya kekurangan. Dan kekurangannya itu yang bikin sepupu gue akhirnya give up.
Tapi toh, sepupu gue juga jauh dari "sempurna".
Dasar laki2!!!! Biar kata dia sepupu gue, tetep aja ... DASAR LAKI2!
Kemaren akhirnya kita jalan bareng, karena Mba Len mau kasih undangan pernikahannya.
Jelaslah bukan sama sepupu gue :D
Seandainya aja dia bisa jadi ipar gue, pasti gue seneng banget!
Tapi itulah jodoh.
Mba Len udah tunggu sepupu gue selama 7 taun pacaran, ditambah 2 taun untuk jadi temen curhatnya kalo sepupu gue lagi bermasalah sama ceweknya.
Tapi toh, namanya perempuan, sampe kapan mau nunggu?
Datanglah cowok ini, yang kasih dia apa yang seharusnya diterima oleh seorang cewek, dan akhirnya bisa meluluhkan hatinya.
So, 9 taun penantian, akhirnya bisa dipatahkan hanya dengan 1 taun pacaran untuk maju ke jenjang yang lebih.
Tapi itulah jodoh.
Nggak ada yang tau kapan dia dateng.
Hmmm...
It makes me wondering, how it's gonna be when it comes to me? :)
