Friday, May 11, 2007

Bukan Sepenuhnya Salah Mereka


-- Buat para cewek yang baca, gue bukannya mau menghakimi kaum kita. Tapi ini hanya sekedar logika belaka dan lagi2 pengandaian yang gue tumpahin dalam bentuk tulisan. Hidup Ibu kita Kartini!!!! Lho??? --


Dengan berat hati gue akuin -- dan gue yakin ada juga gue2 lainnya di luar sana -- gue pribadi adalah tipe cewek yang nggak suka diatur2 dan nggak mau kalah. Gue punya mau, dan gue juga punya prinsip. Prinsip gue yang terbesar di saat berhadapan dengan cowok, ‘Kalo emang bisa menang, kenapa harus kalah?’ Yang gue sadarin juga, gue nggak suka berada di bawah cowok. Gue selalu berusaha memposisikan diri gue equal dengan dia. Bukan di atasnya, catet, tapi sejajar. Tuntutan tak tertulis gue dalam suatu hubungan serius dengan cowok adalah dia boleh aja minta gue melakukan sesuatu, tapi dengan alasan yang bisa gue terima dengan logika gue. Dan seandainya gue berbeda pendapat dengan dia, dia harus mau dengerin (bukan ngikutin kayak sapi dicocok idungnya) pendapat gue dan kita berdua mencoba untuk combine keinginan dia dan gue di satu kesepakatan yang kita ambil bersama. Gue nggak akan terima kalo dia memaksakan kehendak ato nyuruh2 gue untuk begini ato begitu. Gue pasti akan ikhlas melakukan sesuatu yang ada embel2 “tolong” daripada “harus”. Gue yakin, kalo kata “harus” itu yang keluar, there will be a war between us. Well, itulah hal yang gue sadari dari diri gue.

Tapi dari pengalaman2 pribadi gue, baik pertemanan dengan cowok maupun pacaran, sebagian besar membuat gue tertuntut untuk selangkah lebih maju dari mereka. Karena ketika kita dihadepin ke suatu masalah, biasanya gue yang harus bisa nemuin jalan keluarnya lebih dulu. Karena ketika mereka punya mau dan akhirnya ngambek kalo keinginannya nggak diikutin, gue jadi nggak enak ati dan ikutin keinginan mereka. Karena ketika mereka nangis, gue harus menemukan 1001 cara untuk nenangin mereka. Karena ketika mereka bingung dan ngerasa takut akan sesuatu, gue ngerasa harus melindungi mereka. Pada akhirnya, apa yang ada di buku teks jadi berbeda jauh dari prakteknya. Dan gue menemukan banyak cewek yang mirip dengan gue. We want to be a hero for them, but actually we do it in the wrong way without realizing.

Akhirnya, realita menunjukkan, kecenderungan cewek jaman sekarang adalah nggak mau kalah; tendensius untuk bisa ada di atas cowok; masih bisa dibodohi dengan strategi lihai cowok untuk ikutin keinginan terselubung mereka supaya mereka nggak perlu bersusah payah dalam mendapatkan sesuatu; merasa posisinya aman kalo seorang cowok lebih bergantung kepada dirinya karena dengan begitu cowok itu akan terus mencari dia dan bukan orang lain; merasa bahagia kalau bisa memanjakan cowok yang dia sayang baik dari segi material maupun spiritual; dll., dll. Jadi, sebenernya tanpa kita sadari, justru kita sendiri yang mendidik para cowok ini untuk jadi cowok2 pemalas bermental tempe.

Kalau gue bisa ngelontarin pertanyaan, siapa sih yang nggak seneng diperhatiin? Siapa yang nggak seneng bisa jadi “seseorang yang sangat berarti”? Siapa yang nggak seneng dimanja? Siapa yang nggak seneng diayomin? Siapa yang nggak seneng kalo semua kebutuhannya terpenuhi tanpa harus berusaha? Siapa yang nggak bangga dianggep sebagai orang yang paling berjasa atas seseorang? Siapa yang nggak seneng dijadiin raja/ratu? Semua orang, nggak cewek, nggak cowok, pastilah seneng. Tapi sekarang semua ini udah salah kaprah. Dan yang gue nggak suka, karena kebanyakan dari cowok2 itu sekarang udah bukan lagi ‘pangeran berkuda putih’ yang akan berjuang sampe titik darah penghabisan demi kita.

Gue amat sangat setuju dengan adanya emansipasi wanita. Gue juga amat sangat setuju dengan adanya posisi equal dalam hubungan antara cewek dan cowok.
Tapi di suatu saat nanti, kalo dalam urusan rumah tangga misalnya si istri dengan semangat ’45 pingin mengkudeta posisi suami untuk ada di atas suami dan menjabat sebagai kepala rumah tangga, menurut gue, selain si istri lupa dengan kodratnya sebagai tulang rusuk Adam, yang paling parah berarti dia juga punya kecenderungan bodoh.
Kenapa bodoh?
Cita2 gue yang mudah2an kesampean (amin), gue nggak mau punya suami yang leyeh2 nganggur di rumah ato kerja seadanya cuma bakal cap kalo dia punya pekerjaan, sementara gue sibuk banting tulang siang-malem untuk nafkahin keluarga.
Dan gue juga nggak mau punya suami yang tiap kali ada masalah justru majuin gue untuk mikir mati2an demi mecahin masalah sementara dia berlindung di balik punggung gue, atawa ngacir entah kemana, atawa tau beresnya aja, atawa cuci tangan kalo seandainya jalan yang gue pilihin salah.
Itu makanya gue bilang istri model begitu punya kecenderungan bodoh.
Kenapa kita harus bersusah payah ngerjain kewajiban laki2 sekaligus kewajiban kita sendiri?
Emangnya para lelaki itu mau, pulang kerja bantuin kita urus anak, masak, nyuci, nyetrika, dan di akhir minggu ngelupain waktu istirahatnya untuk bantu2 beres rumah, belanja, dan ngurusin segala tetek-bengeknya? Pasti mereka bakal kasih alesan, “Lho, itu kan tugas perempuan.”

Secara teoretis gue terpikir satu cara yang bisa kita, cewek2, bikin untuk mencegah ‘emansipasi pria’ (secara menurut gue, emansipasi jenis ini justru akan memunahkan habitat pria dan menjadikan seluruh dunia ini “wanita berbeda alat kelamin”) supaya nggak berkembang pesat, meskipun pada pelaksanaannya gue rasa nggak akan gampang dan harus ngeraba2 secara tiap orang pasti punya sifat yang berbeda.
Tumbuhin rasa saling membutuhkan dan menghormati dan bukannya rasa saling ketergantungan.
Bedanya tipis emang antara membutuhkan dengan ketergantungan.

Kalo seseorang punya rasa ketergantungan pada orang lain, dia akan bikin orang itu nggak bisa bergerak bebas dengan kenggakberdayaan dan kenggakPDan yang dia punya.
Huidih ... Kalo itu jatohnya di cowok, kita sebagai cewek bisa apes tujuh turunan :D
Sementara kalo jatohnya di cewek, yah, masih ada sejuta pemakluman lah. Secara menurut primbon nenek moyang ‘Perempuan adalah makhluk yang lemah’, ketergantungan pada lawan jenis yang berarti berbanding terbalik, lebih kuat, bisa jadi dasar pembenaran :p
Beda dengan rasa saling membutuhkan.
Saling membutuhkan numbuhin rasa ada yang kurang meskipun tanpa diapun loe tau kalo loe nggak akan kenapa2. You just feel incomplete without him/her dan bukannya can’t live without him/her. Sementara rasa menghormati bisa bikin kita sama2 menghormati kewajiban dan hak pasangan kita bahwa apa yang harus kita lakukan sebagai perempuan ataupun yang harus mereka lakukan sebagai laki2 emang sama berat dan sama pentingnya.

Gue bukannya mau ngajarin munafik. Tapi sekali waktu, dalam suatu hal (bukan semua hal, lho. Bisa2 ‘tu cowok ngacir secara dia bakal ngerasa kita jadi beban buat dia), perlulah kita bikin mereka merasa kita membutuhkan mereka dan tanpa mereka kita nggak bisa apa2 (walaupun mungkin kita pasti bisa bikin itu tanpa pertolongan mereka), tapi di waktu yang lain kita juga harus bisa atur strategi supaya mereka juga merasa membutuhkan kita dan tanpa kita, mereka ngerasa nggak sempurna.
Karena, ada satu hal juga yang gue pelajari, di saat gue merasa cowok gue bisa melakukan semua hal sendiri tanpa membutuhkan keberadaan dan bantuan gue, gue ngerasa apa arti dan gunanya gue buat dia?
Gue sebagai cewek aja bisa ngerasa begitu, apalagi mereka sebagai cowok yang notabene lebih membutuhkan rasa "dibutuhkan" itu?

0 comments: