Hmmm ...
Kali ini gue rasa, gue lagi pingin aja nulis dalam bahasa Indonesia.
Yah, meskipun bukan bahasa yang baik dan benar :D
Beberapa hari yang lalu, gue chat sama temen gue.
Dan bahasan kita kali itu adalah apa yang disebut dengan "kebetulan".
Singkat kata, dia cerita kalau diminta bosnya untuk telepon salah satu client.
Jadilah dia telepon itu nomor.
Dan tiba2 aja, dia syok secara yang angkat telepon itu justru orang yang selama beberapa tahun ini udah dia coba lupain karena dia nggak pernah punya kesempatan untuk say thanks to him for everything he did for her secara 'tu cowok emang bener2 "ngilang".
Dia tutuplah 'tu telepon.
Pas dia liat lagi nomor yang harus dia telepon, cuma 1 nomor terakhir yang beda antara si client dengan cowok itu.
Dari sekian juta kombinasi angka, kenapa juga harus angka yang persis sama, hanya beda 1 nomor?
Dan kenapa juga, dia harus neken tombol angka yang justru nyambungin dia ke cowok itu?
Waktu dia cerita, gue cuma senyum2.
Karena gue pun juga sedang memikirkan hal yang nyaris sama, yang berhubungan dengan kata "kebetulan" itu.
Dan ketika dia tanya sama gue, kok bisa sih "kebetulan" itu terjadi?
Jawaban yang gue kasih saat itu:
Yang namanya kebetulan itu memang nggak pernah disangka2, dan kadang juga memang karena adanya rahasia Tuhan.
We never know what will happen or what the hell is happening ketika kita sedang menjalankan "hal kebetulan" itu.
Bisa aja setelah kebetulan itu kita ngerasa bodoh, ato surprise, ato senyum2 sendiri, ato apalah itu.
Kalau kebetulan itu menyangkut seseorang yang pernah ato masih berarti untuk kita, bisa juga orang lain pikir kalo kita masih kebayang2 tentang dia, sebegitu inginnya menghubungi orang itu, so we did it without relizing.
But the bottom line is tetep aja loe ngerasa aneh dengan kebetulan itu karena itu semua emang bener2 terjadi di luar kesadaran loe.
So, komentar gue, pastilah ada sesuatu yang Tuhan rahasiakan buat kita.
In your case, Tuhan ingetin loe untuk say thanks for everything he did back then for you, rite? ;)
Beberapa minggu yang lalu, gue dan seseorang yang pada akhirnya sekarang jadi cowok gue, sama2 mutusin untuk stay away from each other karena satu dan lain hal.
Selama gue jauh dari dia, gue nggak putus2nya berdoa sama Tuhan untuk kasih gue petunjuk, apakah dia yang terbaik/tidak untuk gue.
Seandainya dia emang yang terbaik, gue minta supaya dia dikasih keberanian yang nggak pernah dia dan gue duga sebelumnya, dan gue minta jangan kasih gue keraguan sedikitpun di hati gue untuk bilang iya.
Tapi kalau emang dia bukan buat gue, gue minta perasaan gue dimatiin, dan gue nggak perlu ketemu2 dia lagi sampai perasaan gue stabil, kembali seperti ketika kita baru kenal.
Seminggu pertama, gue ngerasa semuanya biasa2 aja.
Nggak ada rasa kangen berlebihan, nggak ada air mata, dan juga nggak ada usaha2 untuk inget2 dia, buka2 profile dia atau penasaran dengan apa yang lagi dia buat.
Masuk minggu kedua, gue mimpi dia. Dan gue nggak suka banget dengan arti mimpi itu.
Tapi gue berusaha biasa, nggak gue pikirin.
Worst, gue bener2 mimpiin dia tiap hari !!!
Gue semakin kenceng minta sama Tuhan untuk dikasih kekuatan bertahan dan jawaban.
Tanpa mikir, gue pernah telepon dia, hanya untuk minta dia lebih hati2 karena dia pun tau arti mimpi gue.
Setelah itu, gue kembali ke kecuekan gue.
Sampai akhirnya, gue tergelitik untuk baca salah satu bulletin yang dia posting.
Judul yang unik menurut gue.
Begitu gue baca isinya, gue tiba2 ngerasa campur aduk, nggak jelas.
Gue pikir, 'Tanggung ah ... Sekalian aja gue liat profile-nya.'
Semua yang gue liat di sana, semua yang gue baca, bikin gue nangis.
Bukan nangis karena apa, tapi karena gue tersadar, sebenernya dalam hati gue, gue masih butuh dia, masih sayang dia, dan gue kangen dia.
Seandainya dia emang juga punya perasaan yang sama seperti yang gue baca di sana, kenapa gue dan dia nggak bisa punya cerita kita sendiri?
Kenapa hal yang mudah, justru jadi dibikin sedemikian sulit?
Tapi tetep ... Gue yakin Tuhan punya maksud tertentu, yang gue, sebagai manusia yang punya keterbatasan akal, nggak akan pernah bisa ngerti, kenapa musti begini.
Dan hari itu, gue sms dia (yang lagi2 tanpa mikir), untuk tanya maksud bulletin-nya.
Malemnya, gue tahajud sampe nangis. Nangis terhebat yang gue alamin selama 2 minggu gue nggak ketemu dia.
Gue tanya sama Tuhan, "Kenapa begini, kenapa begitu, kenapa, kenapa, dan kenapa???"
Gue nangis sampe ketiduran di atas sajadah gue.
Gue bukan orang yang agamis, yang religius, yang fanatik.
Tapi gue tetep yakin dan percaya sama Tuhan, dalam keadaan apapun.
Dan di suatu malam, gue shalat Isya, lalu makan malem.
Adik gue pulang bawa pulsa buat gue.
Gue isilah pulsa itu, lalu gue nonton TV. Semuanya biasa2 aja.
Inilah "kebetulan" yang gue alamin setelah sebelumnya gue pernah telepon dan sms dia tanpa mikir.
Gue browsing2 contact di Hp gue.
Kayak orang dihipnotis, gue dial nomor-nya.
Mungkin buat kebanyakan orang, gue melakukan hal itu di bawah alam sadar gue, karena gue sedikit-banyak masih mengharapkan dia.
Tapi gue berani sumpah, saat itu kayak ada sesuatu yang gerakin gue untuk bikin itu.
(Pernah ada orang yang bilang sama gue, kalau Tuhan nggak ngeridhoin kita bikin sesuatu, hal itu nggak akan pernah terjadi, sebesar dan sekuat apapun usaha kita untuk meraih hal itu. Dan semua itu adalah rahasia Tuhan, kenapa kita boleh/nggak boleh mendapatkan apa yang kita inginkan)
Dan gue baru bener2 tersadar, setelah gue denger suara dia di seberang sana.
Ketika dia tanya sama gue ada apa nelepon dia pun, gue sendiri nggak tau kenapa.
Yang keluar dari mulut gue justru alasan panik, "Gue cuma pingin nelepon karena gue kangen denger suara loe."
What a silly answer !
Yah, "kebetulan" itu berlanjut sampai 3 jam lamanya.
Dan inti dari semua itu, dia tetep nggak bisa lanjut ke "tahap" yang lebih tinggi dari ini.
Sepanjang 3 jam itu, hati gue nggak putus2nya bilang, "Tuhan, malam ini tolong berikan saya jawaban atas istikharah2 saya selama ini. Saya ikhlas, apapun keputusan yang Kau berikan. Apapun yang terjadi malam ini, itulah jawaban yang terbaik untuk saya."
Sampai gue mau tutup telepon, dia tetep keukeuh dengan keputusannya.
Gue sendiri nggak mau maksain apapun, karena gue udah dapet jawaban dari semua pertanyaan2 yang berkecamuk di pikiran gue selama ini ... Kenapa dia takut, kenapa dia terlalu banyak pertimbangan walaupun gue dan dia saat itu punya perasaan yang sama, semua udah gue dapet jawabannya, dan gue udah puas.
Tepat beberapa saat sebelum tutup telepon, gue ngebatin, "Tuhan sekarang saya udah ikhlas. Saya rela. Karena hanya Engkau-lah yang tau apa yang terbaik untuk saya dan dia. Tolong berikan saya dan dia semua yang terbaik dalam hidup kami. Terima kasih atas jawaban yang Kau berikan."
Dan apa yang terjadi selanjutnya, justru di luar dugaan gue.
Dia beraniin diri untuk coba jalanin semuanya sama gue, di tahap yang lebih lanjut.
Saat itu, gue mantep !
Bukan karena keinginan gue, bukan karena pengharapan gue, tapi gue bener2 mantep !
Tepat di detik itu, gue panas-dingin. Karena gue diingetin, kalau Tuhan udah menetapkan sesuatu, nggak ada yang mustahil buat Dia, meskipun di mata gue, apa yang gue denger malem itu bener2 hal yang mustahil keluar dari mulutnya.
The point is, "kebetulan" terkadang punya rahasianya sendiri. Rahasia yang nggak akan pernah kita tau.
Dan untuk apa yang gue alamin saat ini, mungkin Tuhan pingin gue mencoba membuka hati dan mengikuti kata hati gue, menjalankan kodrat gue sebagai perempuan yang memang sewajarnya lebih mengikuti perasaan, setelah sekian tahun lamanya bersembunyi di balik logika gue yang selalu ngatur gue untuk begini dan begitu, sesuai dengan apa yang "tertulis di atas kertas".
Dan mungkin Dia juga "nyentil" gue bahwa dengan gue yang terlalu berlogika selama ini, gue udah banyak nyakitin dan bikin orang lain serba salah ngadepin gue dengan keegoisan dan kelempengan ucapan gue.
Karena setelah gue punya dia sebagai orang yang seharusnya menyayangi, menjaga dan melindungi perasaan gue, gue justru ngerasa dia jadi lebih jauh, lebih sinis, berkecenderungan untuk selalu "menyerang" gue, bener2 180 derajat dari dia yang gue kenal sebelum status ini kukuh.
Dan gue rasa, itu karena dia mencoba mengalahkan perasaannya dengan logika.
And I hate myself when I see the reflection of myself back then in him ...

- 1 April 2007 -
Kali ini gue rasa, gue lagi pingin aja nulis dalam bahasa Indonesia.
Yah, meskipun bukan bahasa yang baik dan benar :D
Beberapa hari yang lalu, gue chat sama temen gue.
Dan bahasan kita kali itu adalah apa yang disebut dengan "kebetulan".
Singkat kata, dia cerita kalau diminta bosnya untuk telepon salah satu client.
Jadilah dia telepon itu nomor.
Dan tiba2 aja, dia syok secara yang angkat telepon itu justru orang yang selama beberapa tahun ini udah dia coba lupain karena dia nggak pernah punya kesempatan untuk say thanks to him for everything he did for her secara 'tu cowok emang bener2 "ngilang".
Dia tutuplah 'tu telepon.
Pas dia liat lagi nomor yang harus dia telepon, cuma 1 nomor terakhir yang beda antara si client dengan cowok itu.
Dari sekian juta kombinasi angka, kenapa juga harus angka yang persis sama, hanya beda 1 nomor?
Dan kenapa juga, dia harus neken tombol angka yang justru nyambungin dia ke cowok itu?
Waktu dia cerita, gue cuma senyum2.
Karena gue pun juga sedang memikirkan hal yang nyaris sama, yang berhubungan dengan kata "kebetulan" itu.
Dan ketika dia tanya sama gue, kok bisa sih "kebetulan" itu terjadi?
Jawaban yang gue kasih saat itu:
Yang namanya kebetulan itu memang nggak pernah disangka2, dan kadang juga memang karena adanya rahasia Tuhan.
We never know what will happen or what the hell is happening ketika kita sedang menjalankan "hal kebetulan" itu.
Bisa aja setelah kebetulan itu kita ngerasa bodoh, ato surprise, ato senyum2 sendiri, ato apalah itu.
Kalau kebetulan itu menyangkut seseorang yang pernah ato masih berarti untuk kita, bisa juga orang lain pikir kalo kita masih kebayang2 tentang dia, sebegitu inginnya menghubungi orang itu, so we did it without relizing.
But the bottom line is tetep aja loe ngerasa aneh dengan kebetulan itu karena itu semua emang bener2 terjadi di luar kesadaran loe.
So, komentar gue, pastilah ada sesuatu yang Tuhan rahasiakan buat kita.
In your case, Tuhan ingetin loe untuk say thanks for everything he did back then for you, rite? ;)
Beberapa minggu yang lalu, gue dan seseorang yang pada akhirnya sekarang jadi cowok gue, sama2 mutusin untuk stay away from each other karena satu dan lain hal.
Selama gue jauh dari dia, gue nggak putus2nya berdoa sama Tuhan untuk kasih gue petunjuk, apakah dia yang terbaik/tidak untuk gue.
Seandainya dia emang yang terbaik, gue minta supaya dia dikasih keberanian yang nggak pernah dia dan gue duga sebelumnya, dan gue minta jangan kasih gue keraguan sedikitpun di hati gue untuk bilang iya.
Tapi kalau emang dia bukan buat gue, gue minta perasaan gue dimatiin, dan gue nggak perlu ketemu2 dia lagi sampai perasaan gue stabil, kembali seperti ketika kita baru kenal.
Seminggu pertama, gue ngerasa semuanya biasa2 aja.
Nggak ada rasa kangen berlebihan, nggak ada air mata, dan juga nggak ada usaha2 untuk inget2 dia, buka2 profile dia atau penasaran dengan apa yang lagi dia buat.
Masuk minggu kedua, gue mimpi dia. Dan gue nggak suka banget dengan arti mimpi itu.
Tapi gue berusaha biasa, nggak gue pikirin.
Worst, gue bener2 mimpiin dia tiap hari !!!
Gue semakin kenceng minta sama Tuhan untuk dikasih kekuatan bertahan dan jawaban.
Tanpa mikir, gue pernah telepon dia, hanya untuk minta dia lebih hati2 karena dia pun tau arti mimpi gue.
Setelah itu, gue kembali ke kecuekan gue.
Sampai akhirnya, gue tergelitik untuk baca salah satu bulletin yang dia posting.
Judul yang unik menurut gue.
Begitu gue baca isinya, gue tiba2 ngerasa campur aduk, nggak jelas.
Gue pikir, 'Tanggung ah ... Sekalian aja gue liat profile-nya.'
Semua yang gue liat di sana, semua yang gue baca, bikin gue nangis.
Bukan nangis karena apa, tapi karena gue tersadar, sebenernya dalam hati gue, gue masih butuh dia, masih sayang dia, dan gue kangen dia.
Seandainya dia emang juga punya perasaan yang sama seperti yang gue baca di sana, kenapa gue dan dia nggak bisa punya cerita kita sendiri?
Kenapa hal yang mudah, justru jadi dibikin sedemikian sulit?
Tapi tetep ... Gue yakin Tuhan punya maksud tertentu, yang gue, sebagai manusia yang punya keterbatasan akal, nggak akan pernah bisa ngerti, kenapa musti begini.
Dan hari itu, gue sms dia (yang lagi2 tanpa mikir), untuk tanya maksud bulletin-nya.
Malemnya, gue tahajud sampe nangis. Nangis terhebat yang gue alamin selama 2 minggu gue nggak ketemu dia.
Gue tanya sama Tuhan, "Kenapa begini, kenapa begitu, kenapa, kenapa, dan kenapa???"
Gue nangis sampe ketiduran di atas sajadah gue.
Gue bukan orang yang agamis, yang religius, yang fanatik.
Tapi gue tetep yakin dan percaya sama Tuhan, dalam keadaan apapun.
Dan di suatu malam, gue shalat Isya, lalu makan malem.
Adik gue pulang bawa pulsa buat gue.
Gue isilah pulsa itu, lalu gue nonton TV. Semuanya biasa2 aja.
Inilah "kebetulan" yang gue alamin setelah sebelumnya gue pernah telepon dan sms dia tanpa mikir.
Gue browsing2 contact di Hp gue.
Kayak orang dihipnotis, gue dial nomor-nya.
Mungkin buat kebanyakan orang, gue melakukan hal itu di bawah alam sadar gue, karena gue sedikit-banyak masih mengharapkan dia.
Tapi gue berani sumpah, saat itu kayak ada sesuatu yang gerakin gue untuk bikin itu.
(Pernah ada orang yang bilang sama gue, kalau Tuhan nggak ngeridhoin kita bikin sesuatu, hal itu nggak akan pernah terjadi, sebesar dan sekuat apapun usaha kita untuk meraih hal itu. Dan semua itu adalah rahasia Tuhan, kenapa kita boleh/nggak boleh mendapatkan apa yang kita inginkan)
Dan gue baru bener2 tersadar, setelah gue denger suara dia di seberang sana.
Ketika dia tanya sama gue ada apa nelepon dia pun, gue sendiri nggak tau kenapa.
Yang keluar dari mulut gue justru alasan panik, "Gue cuma pingin nelepon karena gue kangen denger suara loe."
What a silly answer !
Yah, "kebetulan" itu berlanjut sampai 3 jam lamanya.
Dan inti dari semua itu, dia tetep nggak bisa lanjut ke "tahap" yang lebih tinggi dari ini.
Sepanjang 3 jam itu, hati gue nggak putus2nya bilang, "Tuhan, malam ini tolong berikan saya jawaban atas istikharah2 saya selama ini. Saya ikhlas, apapun keputusan yang Kau berikan. Apapun yang terjadi malam ini, itulah jawaban yang terbaik untuk saya."
Sampai gue mau tutup telepon, dia tetep keukeuh dengan keputusannya.
Gue sendiri nggak mau maksain apapun, karena gue udah dapet jawaban dari semua pertanyaan2 yang berkecamuk di pikiran gue selama ini ... Kenapa dia takut, kenapa dia terlalu banyak pertimbangan walaupun gue dan dia saat itu punya perasaan yang sama, semua udah gue dapet jawabannya, dan gue udah puas.
Tepat beberapa saat sebelum tutup telepon, gue ngebatin, "Tuhan sekarang saya udah ikhlas. Saya rela. Karena hanya Engkau-lah yang tau apa yang terbaik untuk saya dan dia. Tolong berikan saya dan dia semua yang terbaik dalam hidup kami. Terima kasih atas jawaban yang Kau berikan."
Dan apa yang terjadi selanjutnya, justru di luar dugaan gue.
Dia beraniin diri untuk coba jalanin semuanya sama gue, di tahap yang lebih lanjut.
Saat itu, gue mantep !
Bukan karena keinginan gue, bukan karena pengharapan gue, tapi gue bener2 mantep !
Tepat di detik itu, gue panas-dingin. Karena gue diingetin, kalau Tuhan udah menetapkan sesuatu, nggak ada yang mustahil buat Dia, meskipun di mata gue, apa yang gue denger malem itu bener2 hal yang mustahil keluar dari mulutnya.
The point is, "kebetulan" terkadang punya rahasianya sendiri. Rahasia yang nggak akan pernah kita tau.
Dan untuk apa yang gue alamin saat ini, mungkin Tuhan pingin gue mencoba membuka hati dan mengikuti kata hati gue, menjalankan kodrat gue sebagai perempuan yang memang sewajarnya lebih mengikuti perasaan, setelah sekian tahun lamanya bersembunyi di balik logika gue yang selalu ngatur gue untuk begini dan begitu, sesuai dengan apa yang "tertulis di atas kertas".
Dan mungkin Dia juga "nyentil" gue bahwa dengan gue yang terlalu berlogika selama ini, gue udah banyak nyakitin dan bikin orang lain serba salah ngadepin gue dengan keegoisan dan kelempengan ucapan gue.
Karena setelah gue punya dia sebagai orang yang seharusnya menyayangi, menjaga dan melindungi perasaan gue, gue justru ngerasa dia jadi lebih jauh, lebih sinis, berkecenderungan untuk selalu "menyerang" gue, bener2 180 derajat dari dia yang gue kenal sebelum status ini kukuh.
Dan gue rasa, itu karena dia mencoba mengalahkan perasaannya dengan logika.
And I hate myself when I see the reflection of myself back then in him ...

- 1 April 2007 -

0 comments:
Post a Comment