Tuesday, April 24, 2007

The Case

Gue baru aja tutup telepon dari kenalan gue setelah kita ngobrol for about 3 and half hours.
Kenapa gue bilang kenalan?
Karena setelah gue kenal dia beberapa tahun yang lalu dari temen gue, hubungan gue sama dia cuma sebates telepon dan hanya beberapa kali ketemuan.
Itu juga hanya kalau dia lagi pingin curhat sama gue.
Aneh? Menurut gue juga aneh.
Tapi entah dari kapan dan gimana, dia pernah bilang kalo dia ngerasa cocok curhat sama gue, kebalikan dari gue yang justru nggak pernah ngerasa sreg untuk cerita apapun tentang gue ke dia.

Anyway, kali ini dia cerita, gara2 kerjaannya yang menuntut dia untuk selalu “bermuka dua dan bermulut manis” di depan client2nya, dia ngerasa kayak keilangan jati diri dan terus bertanya sama dirinya sendiri what the hell is going on with him. Dan sampe sekarang, dia belum nemuin jawabannya.
Ah, actually it doesn’t take a genious to figure it out.

Kenapa seseorang bisa ngerasa keilangan jati diri dan akhirnya jadi bingung sendiri?
Biasanya seseorang akan merasa takut nggak bisa diterima secara utuh dalam suatu lingkungan tertentu, bahkan tereliminasi dari lingkungannya seandainya dia menjadi dirinya sendiri tanpa berusaha beradaptasi. Itu adalah satu undang2 tak tertulis yang seharusnya ada dalam kitab pergaulan. ADAPTASI.
Nggak semua orang mudah beradaptasi dan bisa memenuhi “demanding” yang ada dengan cepat.
Satu2nya jalan aman, mau nggak mau dia harus menjalankan kewajiban ataupun norma yang tanpa disadari berubah menjadi rutinitas, hanya supaya dia nggak bener2 sendirian dan bisa bertahan.
Ketika di satu titik dia lelah dengan rutinitas itu, dia akan terbangun, merasa tersesat, dan berusaha mencari jati diri yang hilang dengan berusaha mengingat siapa dia sebenernya, setelah tergesek dan terbentuk oleh norma yang ada di sekelilingnya, juga mencoba mengingat pijakan awal, hal yang bisa membuat dirinya nyaman, bebas dan bahagia, tidak terkungkung oleh embel2 “obligation”.

Dan menurut gue pribadi, ketakutan terbesar seseorang secara manusia adalah makhluk sosial adalah mengambil resiko: BEING ALONE and FEEL LONELY. Gue nggak mau munafik, it’s really sucks when you have nobody around, especially when you need them most. But there’s once in a time that you have to through it and you just have to be strong, either you want it or not.

Huahaha ...
Topik gue kali ini berat banget ya?
Don’t blame me, but blame him :D

Well, pencarian akan jati diri inilah asal-muasal dari obrolan yang berkepanjangan antara gue sama dia.
And it lead me to a solution for him, meanwhile it became a boomerang for me...

1 comments:

flirty said...

iyah, berat banget tulisan elo. tapi bagus dan menarik.

:)